Menjadi Mahasiswa

Logo Universitas Hasanuddin

Sekedar Pembuka

Postingan ini merupakan versi lengkap dari postingan saya di instagram (@Gufkun). Cerita ini menjadi lebih seru karena saya bisa lebih bebas mengetik dengan layar yang lebih besar ini. Hal yang pertama terlintas sejak ingin menulis cerita menjadi mahasiswa ini karena banyak stress yang saya lihat di muka teman-teman seperjuangan saya di bangku kuliah. Mulai dari yang gagal masuk kedokteran sampai yang merasa salah jurusan bahkan merasa salah masuk perguruan tinggi. Silakan baca semua pandangan yang saya lihat dari sudut ini.

Sebuah Pengakuan

Lekuk senja memenuhi guratan awan sore
Jangkar langit diturun menghentingkan cahaya
Pendar cahaya berlalu di bawah kaki
Sebuah teriakan rindu dari dalam hati
Boleh saja kau berteriak begitu kencang hingga orang lain sadar akan hadirmu. Tidaklah perlu ambil pusing dengan semua omongan tidak jelas yang ditujukan kepadamu. Percayalah, dirimu begitu banyak kelebihan. 


Unhas Muda

Assalamualaikum Wr. Wb.

Setelah sekian lama meninggalkan blog ini, saya baru ada kesempatan untuk menulis kembali di blog ini. Saya sekarang sudah kuliah guys. Saya sekarang kuliah di Universitas Hasanuddin, salah satu universitas yang ada di Sulawesi Selatan. Saya mengambil program studi Matematika fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).

Celoteh

Banyak aktris lokal yang ternyata mampu mendunia di tempat saya. Pengalaman paling mengesankan tentang pertemanan yang baru saja saya rasakan, untuk pertama kalinya. Mungkin seperti itu dan tidak ada yang lebih "sakit" selain dibohongi, right?

Kehampaan Si Penunggu



(Baik didengarkan bersama Bryan Adams – Everything I do)

Harus diam dalam rasa tak tenang semerana ini
Sajak kesal untuk hari yang merisaukan
Jauh dari ketenangan, jangankan bahagia
Untuk tersenyum pun juga susah

Inikah cinta yang dijanjikan dunia
Mungkin atau sebuah kenyataan jika aku terlalu cepat
Merasakan hal yang belum pantas untuk kurasakan
Hujan datanglah, bawa pergi semua hal merisaukan ini

Kuhelai napas dalam-dalam untuk menguatkan diri
Sesuatu hal yang sudah pasti akan datang
Bukan sekarang, bukan hari ini, bukan besok
Artinya si penunggu harus menunggu lagi dan lagi

Menjauhi keramaian, demi menjaga hati dan perasaan
Bukan perasaan ini, melainkan perasaan orang lain
Menjaga yang seharusnya dilakukan sejak awal
Cerita ini kadang mengusik masa lalu yang indah

Aku benci si penunggu yang penuh harap
Aku mau ikut pergi bersama berlalunya sang waktu
Jauh dibelakang dan tidak pernah kembali
Karena apa yang ada di depan sungguh tak meyakinkan.

Dua Sisi Tak Terpisahkan

Merangkulmu erat laksana diriku
Memegangmu erat laksana hidupku
Merengkuh rindu dalam riak penuh tawa
Nelangsa tak terasakan oleh hati bisu

Diam dan tertawa senang dalam pilu
Bersamaan dengan bahagia dan kesedihan
Tak pelak lagi inilah jatuh cinta, katanya
Mungkinkah jatuh cinta serumit ini

Jangankan sebuah belaian yang lembut
Senyum saja mampu menidurkanku
Sejenak dan senyaman tak menyentuhku
Jauh lebih indah dan lebih tenang dari sebelumnya

Kelak seisi dunia akan tau
Kisah ini terukir jelas oleh kita
Jauh sebelum ini semua di mulai
Kita telah membuat cerita yang berbeda

Gufkun

Early January

Sekali lagi, sudah 2015!

Banyak hal yang mungkin bisa mendewasakan tahun ini, termasuk umur yang sudah menjadi lebih tua dan lebih dewasa. Lalu, apa yang bisa saya dapatkan dengan semua ini? Entahlah mungkin sebuah kejadian yang benar-benar mampu mengubah pola pikir saya yang sekarang.

Blog ini sudah masuk tahun ke-3 dan saya sudah sekolah di tahun ke-2, bukah berjalan begitu cepat belakangan ini? Ada banyak keinginan yang ingin diselesaikan di tahun 2015 ini dan umur saya sudah 17 tahun, untuk tahun ini.

saya merasa banyak hal yang ingin saya lalui dan tidak ingin saya ikuti lagi, saya betul-betul tidak ingin ikut kegiatan seperti itu lagi. Saya juga ingin cepat-cepat punya KTP dan SIM supaya tidak was-was lagi kalau ada operasi atau sweeping yang dilakukan oleh polisi :v

Hari baru, semangat baru.
Terima kasih 2014!

Sebuah Perjalanan

Jauh sudah langkah menyusuri lika dan liku
Meskipun masih terasa kaku
Hanya ada kamu dan aku
Bersama menjelajahi bumi hingga jauh

Terima kasihku untuk perjalanan indahnya
Hingga hari ini aku masih bersyukur
Berdampingan merasa hangat akan cinta itu
Jadilah segalanya untuk yang terakhir

Dentuman nada-nada penuh sayang
Yang kau lantunkan padaku malam ini
Alangkah iri seisi dunia melihatnya
Ujung dunia pun menunggu kita
Lingkaran kehidupan akan selalu berpihak


Early November

WOW!

Walaupun belum seberapa, tapi kegiatan hari ini sudah buat saya pusing sekali. Bukan merasa hebat, tapi pada kenyataan lapangan ada banyak yang belum bisa disempurnakan oleh teman-teman yang lain.

Saya pernah bilang seperti:

"Saya akan memberikan kepercayaan kepada mereka, jadi saya tidak perlu khawatir"

Sialnya, kalimat di atas ternyata tidak sesuai dengan kejadian yang terjadi di lapangan. Banyak bagian yang harus diperbaiki. Banyak hal yang sangat kurang, bahkan persentasinya sangat kecil. Jadi, pengalaman hari ini akan saya selesaikan.

Untuknya

Lentera menguning di ujung malam
Derap langkah kaki kian menghilang
Tertelan sunyi diperaduan
Mengusung asa dalam keheningan

Lihatlah fajar yang kembali menyosong
Setelah kegelapan menciptakan kebahagiaan
Kemerahan ufuk timur terlihat jelas
Menghadirkan asa ditengah kebahagiaan

Jangankan untuk merasakan kesendirian itu lagi
Mengingat dari rasa kesendirian itu saja tidak mungkin
Tak ada kata selain terima kasih
Untukmu...

You Know-lah

Halo gan :)

Assalamu'alaikum...

Setidaknya saya punya waktu untuk menulis ini ditengah waktu saya yang lumayan luang untuk saat ini. Pernah berpikir juga, "Semakin dekat dengan sesuatu yang lebih menantang, tapi pasti penuh pelajaran." Saya tidak akan menyebutkannya, cukup kalian tahu kalau ini membuat saya agak tidak percaya dengan kemampuan diri saya.

Saya hanya seorang siswa di sebuah sekolah negeri di Bulukumba, tidaknya hanya itu, saya juga tidak memiliki prestasi yang cukup membangga, tapi in shaa Allah akan membuat prestasi juga. Mari kesampingkan tentang itu, mari kita pindah ke sebuah kejadian yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang saya cerita di atas.

Hari ini pertama masuk sekolah, sudah kelas XI (Prok prok prok) sayangnya, teman kelasnya itu-itu saja. Tidak masalah karena punya banyak kelebihan, bisa menerapkan kembali apa yang ada di kelas sebelumnya, tidak enaknya tau sendiri. Bukan masalah temannya, tapi sesuatu yang memang agak memberatkan, kekompakannya, memang sih rasanya agak malas karena memang kurang ada yang sadar dan saling membantu. Wali kelas saya tadi bilang, "Jangan ada yang berblok-blok," dalam hati saya jawab, "Ibu belum tau, hahaha."

Oh ya, kami sudah jadi senior, hihi masih ada kakak kelas XII sih. Setiap generasi memang punya ciri khas, tapi tidak masalah, saya atau kami juga punya ciri khas masing-masing :3

Udah gini aja, jaa...

[Puisi] Kapas-Kapas Langit

Langit berhiaskan kapas merah di ufuk timur
Surya mulai dan perlahan mendaki sejak waktu itu
Melihatnya, aku merasa tak tertahankan
Kapas warna merah itu kemudian memudar

Berubah menjadi kapas putih bersih menghiasi langit
Sadarkah, bahwa dia perlahan bergerak di atasku
Membentuk banyak kisah dan kenangan
Relakah jika semua berubah menjadi gelap?

Perlahan, tetes demi tetes air mulai menghantam tanah bumi
Jatuh di atas daun, atap, dan juga kepalaku
Rasanya dingin mulai menusuk masuk dan lebih sakit
Meringkuk dingin di bawah kapas-kapas langit


(Mencari) Keadilan

Berharap masih ada keadilan di antara busuknya ketidakadilan, rasanya seperti membakar tangan dengan api. Kenapa? Saya rasa, jika kami mengambil pilihan lain, maka kami akan menerima manifestasi dari ketidakadilan itu. Secara keseluruhan, ketidakadilan itu sudah lebih besar dari keadilan yang sebetulnya sangat kami butuhkan.

Bukan bermaksud menyombongkan atau memang mungkin terdengar sombong seperti sekarang, tapi apakah dengan adanya mereka akan merusak kami? Mungkin merusak namun dengan perlahan, perlahan dan menusuk tetap lebih sakit daripada langsung hancur.

Mendapat banyak pelajaran dari ketidakadilan jelas kami mendapat banyak dari sana, sangat banyak. Mulai dari bagaimana kami mengontrol emosi, sampai (maaf) memperbudak apa yang perlu dimanfaatkan untuk kepentingan bersama serta mengorbankan perasaan orang lain juga untuk kepentingan bersama.

Memang salah dan benar itu sangat tipis, kalau memang keadilan yang dicari, kami tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti ini. Semacam kami diaj ari untuk menjilat ludah sendiri, kasarnya kami diajari berbuat KEBODOHAN --tapi jelas kami tidak akan menerapkannya.

Jangan terima kebodohan, sesakit apapun Anda harus menerima apa yang memang menjadi balasan untuk keadilan yang Anda emban demi kebaikan. Jangan diam dalam ketidakadilan karena Anda takut ikut terjatuh bersama dalam perihnya mencari keadilan.

"Sesekali korbankanlah perasaan orang lain untuk kepentingan bersama - Kak Diong"

Siluet

Siluet senja bersandar pada pelupuk mata
Terkesan mengada-ada dan selalu diadakan
Rentetan air memantulkan cahaya senja
Deras, sangat deras sehingga mengusik

Rangkullah aku menuju siluet yang lain
Abadikan setiap momen yang terkisah
Rangkul aku bersama kisahmu
Gapai horizon yang sangat luas


Puisi: Kebersamaan

Desah manis ombak menabrakkan diri ke karang
Terdengar mereka berteriak bahagia 
Mereka kuat karena bersama
Menghantam yang ada dengan kekuatan kebersamaan
Seakan karang menangis di tengah keramaian
Keceriaan ombak membuat hatinya teriris

Kebersamaan membawa semua buih berjaya
Bersatu menjadi ombak nan berjaya
Arungi samudra penuh rintangan
Menggapai angan di tengah asa
Penuh dengan rasa kebersamaan

Orang (Sok) Baik

"Mana ada asap sebelum api dibakar!" - Someone

Mencari sebuah kebenaran di antara kesalahan sendiri adalah hal yang mustahil. Kita memulai masalah dan kita mencari kebenaran di sana, cukup lucu, tapi ADA yang seperti itu. Datang untuk merusak apa yang sudah sangat sempurna.

Ciri-ciri munafik akan bersangkut kepada mereka. Mereka yang suka mencari masalah, mereka yang tidak tahu malu akan kesalahan mereka. Jangan pernah biarkan amarah membutakan kalian teman. Jangan sampai kata-kata kalian sendiri yang akan menghancurkan kalian.

SALAM!
Gufkun

Butuh Pemersatu

Mungkin banyak pemikir untuk membantu saya mengurangi kesenjangan yang ada di kelas. Kita tidak butuh orang yang mementingkan dirinya sendiri, kita butuh orang yang mau perubahan. Satu perubahan kecil sudah cukup untuk mengurangi kesenjangan yang ada di kelas. Meskipun saya juga punya masalah dengan beberapa orang yang ada di kelas, ini bukan berarti saya juga tidak mau membantu, malahan saya juga mau memperbaiki apa yang menjadi kekurangan di kelas. Apalagi tidak adanya rolling kelas saat penaikan kelas.

"Ah, tidak baek sekali, tidak ada rolling kelas," mungkin kalimat itu sudah mengambarkan ketidaksenangan beberapa anggota kelas dengan keputusan sekolah. Maka dari itu, saya butuh orang yang harus menjadi perintis pemersatu di kelas. Susah memang, masalah yang kompleks dari sikap apatis menjadi tantangan berat untuk saya dalam melaksanakan tujuan yang (sangat) mulia ini.

X Pem. MIPA 1 (KOMPAS) Butuh Pemersatu

   Kita melihat, bahwa banyak masalah memang menjadi ajang untuk menambah pengalaman dan kedewasaan, tapi apalah gunanya masalah kalau cuma menambah masalah dan lebih ruwet lagi. Lebih ruwet, lebih dewasa, TIDAK! Kompas butuh satu orang perintis pemersatu agar semua menjadi sangat menyenangkan di kelas.

   Pertama, terasanya kesenjangan. Mungkin adanya perbedaan persepsi antara kelompok bagian depan dan kelompok bagian belakang. Permasalahan ini terjadi karena kurangnya komunikasi dan saling kerja sama antar kelompok. 

   Kedua, pilih-pilih teman. Tak bisa banyak yang melakukan ini. Bukan bagaimana, ini tentang bagaimana mendapat nama di kelas, dalam artian mereka berteman dengan yang mudah terkenal, ikut terkenal! Tolong, hentikan.

#50thGraduationOfSmansaBulukumba

Assalamu'alaikum dan selamat pagi!

     Setelah kemarin melaksanakan acara penamatan dan perpisahan SMA Negeri 1 Bulukumba di gedung JSN rasa lelah masih ada. Hehe, tapi semua itu terbayar dengan kelancaran acara. Meski beberapa insiden kecil yang mmebuat pusing, tapi tidak terlalu menganggu jalannya acara.

Tanggal 16 Mei 2014,

     Kami semua, pengurus OSIS dan beberapa guru datang ke JSN untuk mendekorasi beberapa bagian gedung dan merapikan kursi yang telah kami pesan.

Setelah Merapikan Kursi
       Setelah semua kursi tersusun, sekitar pukul 5 sore, kami mengangkut sofa dari beberapa tempat; ruang kepala sekola dan rumahnya kak Amirul.

    Kemudian, semua susun tempat sudah selesai sekarang tinggal menunggu pendekorasian ruangan. Kata kak Aris, kalau orang yang mendekor akan datang malam hari, dia katanya lebih suka bekerja sendiri dan sunyi --pppfff.

     Karena adanya persembahan dari pengurus OSIS, yakni paduan suara yang diikuti beberapa teman dan sudah berlatih selama beberapa hari sebelum hari H. Ada juga penampilan dari Band Acoustic dari kakak kelas XII yang sangat keren WOW.

Classmate?

Hoho... Baru bisa posting lagi. Soalnya lagi sibuk sama urusan sekolah dan beberapa masalah pribadi. Lagi-lagi posting jam begini, mana ada yang baca? Ckckck... Nggak apalah, daripada nggak sama sekali.

Kali ini akan membahasa sesuatu yang agak sensitif.

APATIS (Apathy)

Pasti tau dong, ya tidak peduli, masa bodoh! Ah! Terkadang kalau dengar kata yang satu ini, saya biasa teringat dengan teman seperjuangan di Kampus SMANSA. Mereka itu seperti apa ya, mereka itu menjengkelkan. Entah bagaimana cara supaya mereka itu tidak masa bodoh.