Salju
turun dengan lebat di sepanjang jalan kota Altstad. Meski salju turun dengan
cukup lebat, orang-orang tetap saja melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Orang-orang kota Altstad adalah pekerja yang sangat rajin. Mereka sangat suka
dengan yang namanya bekerja karena berpikir hidup mereka akan berakhir jika
mereka tidak memiliki uang.
Salju
semakin lebat menyelimuti kota. Permukaan jalan semaki berwarna putih dan
semakin licin. Seorang anak berlari menuju sebuah toko yang menjual banyak
mainan. Sesampainya di depan tokoh, anak itu langsung masuk. Setelah beberapa
lama, anak itu keluar membawa sebuah bola kristal putih.
“Akhirnya,
uang cukup utnuk mendapatkan bola kristal ini,” ucap anak laki-laki itu.
Sambil
memeluk bola kristal itu di dalam mantel kulitnya, ia mempercepat langkahnya.
Uap putih terus keluar dari hembusan nafasnya, ia sangat kedinginan di cuaca
kali ini. Sesampainya di depan sebuah apartemen, ia segera masuk sambil tak
lupa memberikan senyum kepada petugas keamaan yang ada di depan pintu masuk.
“Aku
akan meletakkanmu di sini,” ucap anak laki-laki itu sambil menyimpan bola
kristal itu tepat di depan perapian.
Anak
laki-laki itu mengelus-ngelus bola kristal lalu melengketkan tangannya ke muka.
Ia merasa sangat kedinginan, padahal ia telah memakai selimut, menggunakan
mantel, dan berada di depan tunggu perapian.
Anak
itu terus memandangi bola kristal itu dengan sangat senang, sampai akhirnya ia
tertidur dengan kepala disandarkan pada kedua lututnya sedang menekuk ke
arahnya. Siang dan malam susah dibedakan karena awan mendung dan kurangnya
pencahayaan membuat anak laki-laki itu tertidur lelap.
***
