Rise of The Nero Pillars: Chapter 1 - Altstad City

Salju turun dengan lebat di sepanjang jalan kota Altstad. Meski salju turun dengan cukup lebat, orang-orang tetap saja melakukan aktivitasnya seperti biasa. Orang-orang kota Altstad adalah pekerja yang sangat rajin. Mereka sangat suka dengan yang namanya bekerja karena berpikir hidup mereka akan berakhir jika mereka tidak memiliki uang.
Salju semakin lebat menyelimuti kota. Permukaan jalan semaki berwarna putih dan semakin licin. Seorang anak berlari menuju sebuah toko yang menjual banyak mainan. Sesampainya di depan tokoh, anak itu langsung masuk. Setelah beberapa lama, anak itu keluar membawa sebuah bola kristal putih.
“Akhirnya, uang cukup utnuk mendapatkan bola kristal ini,” ucap anak laki-laki itu.
Sambil memeluk bola kristal itu di dalam mantel kulitnya, ia mempercepat langkahnya. Uap putih terus keluar dari hembusan nafasnya, ia sangat kedinginan di cuaca kali ini. Sesampainya di depan sebuah apartemen, ia segera masuk sambil tak lupa memberikan senyum kepada petugas keamaan yang ada di depan pintu masuk.
“Aku akan meletakkanmu di sini,” ucap anak laki-laki itu sambil menyimpan bola kristal itu tepat di depan perapian.
Anak laki-laki itu mengelus-ngelus bola kristal lalu melengketkan tangannya ke muka. Ia merasa sangat kedinginan, padahal ia telah memakai selimut, menggunakan mantel, dan berada di depan tunggu perapian.
Anak itu terus memandangi bola kristal itu dengan sangat senang, sampai akhirnya ia tertidur dengan kepala disandarkan pada kedua lututnya sedang menekuk ke arahnya. Siang dan malam susah dibedakan karena awan mendung dan kurangnya pencahayaan membuat anak laki-laki itu tertidur lelap.
***