Dua Sisi Tak Terpisahkan

Merangkulmu erat laksana diriku
Memegangmu erat laksana hidupku
Merengkuh rindu dalam riak penuh tawa
Nelangsa tak terasakan oleh hati bisu

Diam dan tertawa senang dalam pilu
Bersamaan dengan bahagia dan kesedihan
Tak pelak lagi inilah jatuh cinta, katanya
Mungkinkah jatuh cinta serumit ini

Jangankan sebuah belaian yang lembut
Senyum saja mampu menidurkanku
Sejenak dan senyaman tak menyentuhku
Jauh lebih indah dan lebih tenang dari sebelumnya

Kelak seisi dunia akan tau
Kisah ini terukir jelas oleh kita
Jauh sebelum ini semua di mulai
Kita telah membuat cerita yang berbeda

Gufkun

Sebuah Perjalanan

Jauh sudah langkah menyusuri lika dan liku
Meskipun masih terasa kaku
Hanya ada kamu dan aku
Bersama menjelajahi bumi hingga jauh

Terima kasihku untuk perjalanan indahnya
Hingga hari ini aku masih bersyukur
Berdampingan merasa hangat akan cinta itu
Jadilah segalanya untuk yang terakhir

Dentuman nada-nada penuh sayang
Yang kau lantunkan padaku malam ini
Alangkah iri seisi dunia melihatnya
Ujung dunia pun menunggu kita
Lingkaran kehidupan akan selalu berpihak


Untuknya

Lentera menguning di ujung malam
Derap langkah kaki kian menghilang
Tertelan sunyi diperaduan
Mengusung asa dalam keheningan

Lihatlah fajar yang kembali menyosong
Setelah kegelapan menciptakan kebahagiaan
Kemerahan ufuk timur terlihat jelas
Menghadirkan asa ditengah kebahagiaan

Jangankan untuk merasakan kesendirian itu lagi
Mengingat dari rasa kesendirian itu saja tidak mungkin
Tak ada kata selain terima kasih
Untukmu...

[Puisi] Kapas-Kapas Langit

Langit berhiaskan kapas merah di ufuk timur
Surya mulai dan perlahan mendaki sejak waktu itu
Melihatnya, aku merasa tak tertahankan
Kapas warna merah itu kemudian memudar

Berubah menjadi kapas putih bersih menghiasi langit
Sadarkah, bahwa dia perlahan bergerak di atasku
Membentuk banyak kisah dan kenangan
Relakah jika semua berubah menjadi gelap?

Perlahan, tetes demi tetes air mulai menghantam tanah bumi
Jatuh di atas daun, atap, dan juga kepalaku
Rasanya dingin mulai menusuk masuk dan lebih sakit
Meringkuk dingin di bawah kapas-kapas langit


Siluet

Siluet senja bersandar pada pelupuk mata
Terkesan mengada-ada dan selalu diadakan
Rentetan air memantulkan cahaya senja
Deras, sangat deras sehingga mengusik

Rangkullah aku menuju siluet yang lain
Abadikan setiap momen yang terkisah
Rangkul aku bersama kisahmu
Gapai horizon yang sangat luas


Puisi: Cerita di Ujung Senja

Berpatokan pada kuning langit di Barat
Berpijak asa penuh harapan tentang cinta
Guyuran air membasahiku
Diriku menggigil olehnya

Kala senja basah oleh air mata langit
Setetes air jatuh dari setiap daun hijau di sana
Terduduk terus memandang jauh ke Barat
Akankah cinta akan di sini lagi?

Perasaan kalut menguasai jiwa muda yang resah
Menunggu, hal yang terlalu bodoh
Senja saja tak menungguku
Apalagi cinta penuh kepalsuan

2014

Puisi: Tanpa Batas

Kala perasaan seperti ini datang menghampiri jiwa bebas
Rentan akan kisah dari setiap pengalaman yang terjadi
Menunggu setiap kasih dari setiap jeritan perasaan ini
Kukorek luka lama untuk mendapat perasaan ini

Lantas, akan kuapakan semua perasaan ini
Haruskah kubawa pergi bersama kisah yang lalu
Ataukah kubuka dan buat kisah yang lain
Kelak semua akan menjadi kumpulan video usang

Foto, air mata, tangis, tawa, dan kejutan
Bersatu dalam  bingkai kisah keharmonisan tanpa batas
Tanpa batas menuju jutaan kebahagian yang menyebar
Tersebar luas di seluruh bagian bumi entah tak tau arahnya

Kupadang sosok dengan wajah agak pucat
Kutau, kau menahan kantuk untuk bersedih
Terlihat garis hitam tebal di bawah kedua matamu
Kenapa harus mengorek luka lamamu...

Lebih baik kau mendengar tawa dan canda
Memerhatikan hati yang sedang dilanda lara
Hati yang dilanda bahagia tanpa batas
Kuatkan dirimu untuk jutaan cobaan tanpa batas

Nestapa

Ouma Shu - Guilty Crown (Source: Koleksi Penulis)
Tinggalkan noda tebal di atas kening
Serutan dari setiap masalah terus melekat
Berkali-kali dijejalkan kepala ini ke tembok
Berkali-kali dihempaskan bersama harapan

Nestapa melanda hati yang tengah tergerus masalah
Setiap masalah datang tanpa memperhitungkan duka
Lara dan sakit tetap menjadi bagian duka itu
Tak ada terdengar jeritan dari hati karena telah lelah

Noda-noda semakin tebal di kening ini
Semakin banyak nestapa yang mendekat dan menyatu
Kompleks dengan kalbu yang tengah dirundung lara
Selamat datang di hati penuh nestapa

Puisi: Untitled 2

Beranikah aku melupakan kertas itu?
Andai saja waktu itu tak ku bakar sampai hancur
Usaha saja masih tak cukup untuk mengembalikannya

Singkirkan setiap dusta dan duka kertas itu
Rangkai kertas itu ke dalam bentuk baru
Ikatkan kertas itu dengan harapan yang ada

Seandainya saja kertas itu masih ada dan utuh
Ulang, kami masih mau mengulang tulisan di kertas itu
Dari mana kami memulainya?
Aku, tidak, kami, tidak mengetahuinya

Risih, saat bagian kertas itu mulai terpencar ke mana-mana
Nestapa menyerang setiap bagian kertas itu
Indah saja, ketika melihat kertas baru menggantikannya

Puisi: Untitled

Andai saja papan itu masih dapat kuhancurkan
Demi sebuah kejutan aku berani membuatnya
Entah ada apa dengan papan biru di atas sana
Beranikah aku menghancurkan papa biru besar itu?
Yang aku butuhkan adalah sebilah parang, mungkin palu
Source: Koleksi Penulis (Akihito Kanbara & Mirai Kuriyama - Kyoukai no Kanata)

Detak jantung saling memburu di dalam dada
Erangan cukup keras datang dari hati yang telah terpaku
Tinggal cerita papan dan paku di atas sana
Terlihat cukup adil untuk hidup yang aneh
Indah saja sudah membuat hidup bahagia

Alangkah besar niat untuk menguatkannya
Langkahku terus kupijakkan bersama jutaan harapan
Andai saja pijakkanku cukup kuat 
Namun, aku terjatuh bersama harapan itu
Genggamanku masih ada, meski harus menopan keinginan itu
Ini adalah bukti bahwa keinginan cukup untuk segalanya

Tak ada lagi lesung pipi itu di wajahmu
Entah kenapa rasa seperti harus hadir ketika aku diam
Namun, ini akan jadi hal yang paling aku benci
Rentetan kenangan yang terus berputar di atas semua masa depan
Inikah sesal saat aku ingin menghancurkan papan itu?


Bulukumba, 2014.

Puisi: Cakrawala

Jauh di ujung cakralawa di atas sana
Kita berpapasan secara tiba-tiba
Tinggalkan garis putih panjang
Kau bawa aku bersama milyaran lainnya

Satu bagian dari milyaran akan terpilih
Sisanya, mereka akan lenyap
Menghilang untuk mendapat yang lebih baik
Tapi, kadang mereka takkan mampu melakukannya

Jantungku berdetak cukup cepat kala kau datang
Menemuiku di antara milyaran lainnya
Kini, kita hanya berdua di atas cakralawa yang luas
Melihat ke bawah, kulihat semua yang melihat kita

Sungguh sempurna darah yang mengalir
Memberi energi positif pada setiap tutur kata
Gerakan badan yang sangat aduhai...
Kumohon, tetap seperti itu

Jangan pernah tinggalkan aku lagi di atas cakralawa
Aku menjadi tak terlihat saat kau hilang
Jadilah cahaya bersamaku di cakrawala ini

Bulukumba, 2014.

Dinding

Di antara seluruh kilapan di langit
Temui aku di salah satu arahnya
Aku akan bertahan di bawah sini
Hingga engkau peduli denganku

Aku takkan berani merubah segalanya
Meski kutau kau sekeras batu
Jangan lupakan waktu
Ia mampu mengikismu

Jangan ragukan satu hal pun
Perhatian dan kepedulian
Perbedaan dan persamaan

Perbedaan yang menyatukan
Persamaan yang melengkapkan
Ia benci keadaan seperti ini
Jangan biarkan satu merusak

Meski dinding terlalu tinggi
Kuharap kita bisa menjaganya
Meski dinding terlalu rapuh
Kita akan berusaha menjaganya

Hingga ketika sang bintang menyertaiku
Menerangiku bersama bintang di antara gelapnya malam
Di atas sana, ku tunggu kau di sini
Hingga kau berpikir untuk tetap bersama bintang

Cobaan

Sebuah semangat baru
Mendorongku menuju dunia baru
Senyum terlontar tanpa ragu-ragu
Tertawa terlepas begitu saja

Kadang, masih terdengar kata ragu
Berbagai hal yang masih sangat asing
Masih sangat sulit untuk kami jelaskan
Kurasakan lagi apa itu kasmaran

Rasanya cukup berat memaknainya
Jika memang ini yang terbaik
Ku coba jalani semua dengan tenang
Bahkan dengan cobaan seperti sekarang

Naif

Rapatkan hati dalam senandung rindu
Selaksa senja menemaniku
Silau nampak datang dari sana
Penuh untain kasih dari-Nya

Entah berapa banyak hal lagi
Berapa banyak dari mereka akan pergi
Datang dan pergi sesuka hati
Jikalau waktu kembali
Izinkan aku untuk tak mengenalmu

Kadang sudah tiba saatnya untuk hari ini
Tapi, aku tak terima kenyataan yang gila
Apakah aku terlalu naif atau apa
Jalan hidupku telah ada dan diatur oleh-Nya

Kuizin Dia mengaturnya
Aku adalah seorang aktor kehidupan
Berjalan mencari sosok sang senja
Hingga cahaya hilang tertelan malam

Saat Hati Mengeluh

Ku kejar jua hatimu
Selalu bayangan mengejarku
Menanyakan arti menunggu
Aku takut aku tak mampu
Hati ini selalu saja mengeluh
Tentang betapa perih
Telah jelas terkisah
Aku dan hati ini mengeluh

Jelaskan dengan jelas kisah ini
Apakah ini nyata ataukah lelucon belaka
Hidupkan lagi semangat cinta
Bawaku terbang menuju jalan-Nya

Andai bisa memilih
Aku berharap tak bersamamu
Karena aku takkan mampu begini
Tapi tolong bantu diri ini

Kesetian inti segalanya
Jelaskan betapa indahnya cinta
Diiringi keikhlasan dan restu-Nya
Kita akan bersama meski harus menunggu

Meski hati terus mengeluh tak mampu
Menjadi pemimpin yang baik
Ini juga masih lama
Ini jalan kita aku akan memperbaikinya

Membohongi Perasaan

Jutaan bintang di cakrawala bersamaku
Sang ratu tersneyum manis ke arahku
Serta bayu berliuk-liuk membawa rindu
Menatap ke cakrawala

Mungkinkah seorang bidadari dikirim ke sisiku
Menemaniku di bawah cahaya rembulan
Awan kelam bergerak menutup ratu malamku
Kini hanya sebuah cahaya kecil di atas sana

Lilin bergantungan dan seakan redup tertutup awan
Bayu membuat suasana mencekam
Ku lihat sekelilingku
Kosong, sendiri, aku begitu sepi

Ketahuilah aku penuh kesalahan
Aku takkan mampu merasakan nikmat-Nya
Mungkin ini balasan untuk semuanya
Untuk setiap hati yang ku sakiti

Sejukkan Hatimu

Raja siang menjauh dan menghilang
Jauh dari kebisingan
Sepi sunyi terkucilkan
Ratu malam langsung menemani

Jiwaku bukan penyejuk
Menyejukkan hati
Jiwaku adalah kesempurnaan
Sempurnakan aku dengan senyum tulus

Goresan tinta cinta
Bertaut dengan lara
Mencintai harus merasakan duka
Kita akan belajar untuk dewasa

Ku dekap erat jiwamu
Sejuk sang  ayu
Menenangkan dua insan
Saling berpadu janji
Sehidup semati

Masih Sayang

Entah bagaimana kau menilai
Sudah banyak cinta yang aku beri
Kau rasakan?
Mungkin kau takkan merasakan

Hati kecil selalu mendorong
Tapi, agak berat menerima
Hati sakit saat kau cerita dia
Meski kau bukan milikku

Hargai setiap cinta yang ke beri
Terima setiap ketulasan ini
Aku ingin kau tau
Aku masih sayang

Gelap Menerangi

Gelap menerangiku dengan cinta
Lekukan bibir mengarah kepadaku
Gemerlap cahaya di atas sana
Menambah indah malamku

Genggaman jemarimu
Hangat, lembut, menenangkan jiwaku
Rasakanlah ...
Kita berdua di antara keramaian ini

Malam semakin gelap
Udara terasa menusuk hingga tulang
Sang bayu meliuk-liuk mengelilingi kita
Menerbakan bau cinta

Bahagiaku malam ini
Gelap itu mmebahagiakanku
Gelap adalah malam ini
Di temani lampu di setiap jalan ramai

Dua insan bergandengan tangan seperti kita
Bercengkrama dengan senyum indah
Suaramu terlantuh lirih
Membuat aku merasa tenang berada di sisimu

Rasa Yang Terpendam

Dasar hati penuh kenangan
Pahit dan manis tertimbun bersama menjadi kenangan
Menjadi sebuah pulai kecil nan megah
Berdiri kokoh tiang cinta

Tertanam dalam dan kuat
Sulit untuk dicabut
Sebuah permata kecil tertimbun 
Berbalut cinta dan kasih sayang

Menunggu hingga datang sang peri
Membawa sandi harapan
Pembuka kunci tiang
Mengangkat permata kecil itu

Rasa yang terpendam
Rasa telah tumbuh di permukaan
Memulai kisah yang indah
Menata kerajaan cinta bersama sang peri