[Puisi] Kapas-Kapas Langit

Langit berhiaskan kapas merah di ufuk timur
Surya mulai dan perlahan mendaki sejak waktu itu
Melihatnya, aku merasa tak tertahankan
Kapas warna merah itu kemudian memudar

Berubah menjadi kapas putih bersih menghiasi langit
Sadarkah, bahwa dia perlahan bergerak di atasku
Membentuk banyak kisah dan kenangan
Relakah jika semua berubah menjadi gelap?

Perlahan, tetes demi tetes air mulai menghantam tanah bumi
Jatuh di atas daun, atap, dan juga kepalaku
Rasanya dingin mulai menusuk masuk dan lebih sakit
Meringkuk dingin di bawah kapas-kapas langit


Diam Lebih Baik

Jauhkan aku dari kisahmu
Tak penting aku ada dalam sejarahmu
Cukup nama dia, dia, dan dia
Pengganggu seperti tak baik

Aku takut air mata itu jatuh lagi
Menyendiri dari kami
Sepertinya kau takkan mengerti
Ku sabar agar takkan menjadi lebih susah

Aku akan diam beribu kata
Agar kau takkan merasakannya lagi
Karena aku takkan mungkin menjilat ludahku sendiri!

Larut Dalam Keheningan

Samar ku dengar suaramu
Meski di sini begini sunyi dan sepi
Serasa terlarut dalam hening ini
Jauh dari kalian semua

Merasa iri
Memang ragaku tak sempurna
Tapi alhamdulillah
Aku masih bisa berpikir jernih

Konsep kesepian adalah sunyi
Begitu juga dengan hati
Konsep kesucian hati adalah ketenangan
Tergantung bagaimana kita menenangkannya

Masih Sayang

Entah bagaimana kau menilai
Sudah banyak cinta yang aku beri
Kau rasakan?
Mungkin kau takkan merasakan

Hati kecil selalu mendorong
Tapi, agak berat menerima
Hati sakit saat kau cerita dia
Meski kau bukan milikku

Hargai setiap cinta yang ke beri
Terima setiap ketulasan ini
Aku ingin kau tau
Aku masih sayang

Tawa Akan Berlalu

Hari ini kita tersenyum
Esok kita muram
Hari ini kita tertawa
Esok bisa saja menjadi duka

Tawa dan canda akan berlalu
Seiring waktu berjalan pergi
Waktu takkan kembali
Kalimat perpisahan akan terucap dari lidah ini

Teman, jangan lupa
Meski tawa yang kembali telah jadi sejarah
Harus kau kenang dan ingat selalu
Biar mereka tau bahwa kita yang terhebat

Sampaikan pada dunia
Bahwa kita bisa

Diam

Sunyi
Tapi ramai
Ada banyak kata hari ini
Ada banyak cerita hari ini

Silau menusuk mata
Duduk tak menyapa
Lisan hanya diam
Hal ini
Jiwa tenang

Kadang ....
Dekat meluangkan waktu
Jauh menyisahkan rindu
Aku akan diam dalam ramai

Proses ini
Prinsip ini
Kamu telah berbeda
Bukan ini yang aku mau

Terulang

Kata menyayat
Jiwa terjepit
Sesal terjadi lagi
Hidup adalah pilihan

Maaf
Sempurna?
Bukan aku
Pribadi ini penuh kekurangan

Cuma diam
Menatap dalam
Gelap menutup malam
Jiwa terjaga

Kata itu sakit
Menusuk hingga lubuk
Takkan bisa lagi?
Mungkin aku hanya bisa diam

Malam Sepi

Suara langkah kaki
Bunyi
Sunyi
Tetes air jatuh ke lantai


Bayangmu menemani
Jiwa jauh di dasar
Mencoba ke atas
Malam sepi aku terjatuh dalam sedih


Aku sangat rindu dirinya
Akhirnya tubuh bangkit
Berjalan
Mengambil air wudhu
Sholat dan mengadu


Ya Allah, lindungilah dia
Jika ia jodohku jaga dia
Jangan jauhkan jarakku dengan dia
Aaamiin   

Patah Hati



Ku tau aku bukan pilihan hatimu
Aku hanya lelaki yang tak pantas untukmu
Aku lelaki lema yang tak dapat menaklukkanmu
Manis kenangan bersamamu
Berubah menjadi sebuah kenyataan pahit

Saat ku tau aku terlalu bodoh
Aku terlalu bodoh untuk ini
Engkau sahabatku dan ku tau itu
Mengapa hal ini tak rela melepaskan


Bersama dirinya yang buruk
Bukankah sudah banyak
Banyak kebodohan cinta darinya
Apa mungkin hati ini benar
Benar bahwa cinta ini untukmu