You Know-lah

Halo gan :)

Assalamu'alaikum...

Setidaknya saya punya waktu untuk menulis ini ditengah waktu saya yang lumayan luang untuk saat ini. Pernah berpikir juga, "Semakin dekat dengan sesuatu yang lebih menantang, tapi pasti penuh pelajaran." Saya tidak akan menyebutkannya, cukup kalian tahu kalau ini membuat saya agak tidak percaya dengan kemampuan diri saya.

Saya hanya seorang siswa di sebuah sekolah negeri di Bulukumba, tidaknya hanya itu, saya juga tidak memiliki prestasi yang cukup membangga, tapi in shaa Allah akan membuat prestasi juga. Mari kesampingkan tentang itu, mari kita pindah ke sebuah kejadian yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang saya cerita di atas.

Hari ini pertama masuk sekolah, sudah kelas XI (Prok prok prok) sayangnya, teman kelasnya itu-itu saja. Tidak masalah karena punya banyak kelebihan, bisa menerapkan kembali apa yang ada di kelas sebelumnya, tidak enaknya tau sendiri. Bukan masalah temannya, tapi sesuatu yang memang agak memberatkan, kekompakannya, memang sih rasanya agak malas karena memang kurang ada yang sadar dan saling membantu. Wali kelas saya tadi bilang, "Jangan ada yang berblok-blok," dalam hati saya jawab, "Ibu belum tau, hahaha."

Oh ya, kami sudah jadi senior, hihi masih ada kakak kelas XII sih. Setiap generasi memang punya ciri khas, tapi tidak masalah, saya atau kami juga punya ciri khas masing-masing :3

Udah gini aja, jaa...

[Puisi] Kapas-Kapas Langit

Langit berhiaskan kapas merah di ufuk timur
Surya mulai dan perlahan mendaki sejak waktu itu
Melihatnya, aku merasa tak tertahankan
Kapas warna merah itu kemudian memudar

Berubah menjadi kapas putih bersih menghiasi langit
Sadarkah, bahwa dia perlahan bergerak di atasku
Membentuk banyak kisah dan kenangan
Relakah jika semua berubah menjadi gelap?

Perlahan, tetes demi tetes air mulai menghantam tanah bumi
Jatuh di atas daun, atap, dan juga kepalaku
Rasanya dingin mulai menusuk masuk dan lebih sakit
Meringkuk dingin di bawah kapas-kapas langit


(Mencari) Keadilan

Berharap masih ada keadilan di antara busuknya ketidakadilan, rasanya seperti membakar tangan dengan api. Kenapa? Saya rasa, jika kami mengambil pilihan lain, maka kami akan menerima manifestasi dari ketidakadilan itu. Secara keseluruhan, ketidakadilan itu sudah lebih besar dari keadilan yang sebetulnya sangat kami butuhkan.

Bukan bermaksud menyombongkan atau memang mungkin terdengar sombong seperti sekarang, tapi apakah dengan adanya mereka akan merusak kami? Mungkin merusak namun dengan perlahan, perlahan dan menusuk tetap lebih sakit daripada langsung hancur.

Mendapat banyak pelajaran dari ketidakadilan jelas kami mendapat banyak dari sana, sangat banyak. Mulai dari bagaimana kami mengontrol emosi, sampai (maaf) memperbudak apa yang perlu dimanfaatkan untuk kepentingan bersama serta mengorbankan perasaan orang lain juga untuk kepentingan bersama.

Memang salah dan benar itu sangat tipis, kalau memang keadilan yang dicari, kami tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti ini. Semacam kami diaj ari untuk menjilat ludah sendiri, kasarnya kami diajari berbuat KEBODOHAN --tapi jelas kami tidak akan menerapkannya.

Jangan terima kebodohan, sesakit apapun Anda harus menerima apa yang memang menjadi balasan untuk keadilan yang Anda emban demi kebaikan. Jangan diam dalam ketidakadilan karena Anda takut ikut terjatuh bersama dalam perihnya mencari keadilan.

"Sesekali korbankanlah perasaan orang lain untuk kepentingan bersama - Kak Diong"